Jingga Pasca Cekam Kota

Oleh Muhammad Ilham N.A  (Rayon M. Zamroni Fisip) pada Senin, 08 Juni 2026 - 14.50 

Namaku Jingga, Jingga Wicaksana, alumni salah satu kampus di Jawa Tengah yang di gaung-gaungkan dengan sebutan kampus konservasi yang nyataya penuh intervensi. Yah, aku sekarang menjadi guru di salah satu di sekolah menengah pertama di daerah Jakarta. Kebetulan aku sudah berkeluarga nama istriku Thalia Prameswari, dia wanita yang tidak sengaja bertemu saat sedang membaca buku di perpustakaan kala itu. Aku menyukainya karena kita memiliki kesamaan di bidang politik, meski sebenarnya aku tidak suka sama politik, tapi mau bagaimana pun segela aspek kehidupan kita terikat oleh politik dan kebijakan. Mengingat kata dari Soe Hok Gie “politik adalah barang paling kotor, maka suatu saat kita tidak dapat menghindari diri lagi, maka terjunlah”.

Seminggu yang lalu, rupiah melemah hinga Rp 18.000,00 per 1 dolar. Apapun jadi serba mahal dan kebutuhan primer kini terasa seperti tersier. Setiap aku pulang dari mengajar di sekolah dan mampir di kedai untuk hanya sekedar memesan segelas kopi mereka pasti selalu bilang, bahwa apa-apa sekarang pada mahal dan sudah sangat muak dengan program presiden saat ini yang sangat amat tidak jelas yang membuang-buang uang dan juga berhutang hanya demi ingin terlihat berhasil dengan program gagasan miliknya. Tapi nyatanya kini rupiah anjlok dan rakyat mulai marah, dengan statemen yang mengatakan “orang desa gak pake dolar”. Kalimat “orang desa gak pake dolar” adalah kalimat yang terdengar membumi, tapi justru memperlihatkan betapa jauhnya kekuasaan memahami struktur penderitaan rakyatnya sendiri. Petani mungkin tidak memakai dolar, tapi pupuk yang ia beli, BBM yang menggerakan ditribusi, hingga harga kebutuhan pokok yang ia konsumsi, semuanya tunduk pada mekanisme global yang di pengaruhi dolar. Mengatakan rakyat desa tidak memakai dolar utuk meredakan kepanikan publik sama saja dengan mengatakan orang miskin tidak perlu memahami inflasi hanya karna mereka tidak pernah membaca grafik ekonomi.

Sebulan setelah keluarnya statment itu dan semakin anjloknya rupiah, para anak muda, kaum pekerja dan para mahasiswa menyusun rencana dengan menyebut Reforamasi Jilid II, dengan niat menggulingkan rezim yang sudah dianggap tak pantas memimpin subuah negara. Berita ini ramai dan menyebar cukup massif di berbagai platform media. Konsolidasi masa aksi semakin menjadi dan sudah bertekad bulat untuk melakukan Reformasi Jilid II.

Tiba-tiba, suasana kota jadi berubah, berubah jadi mencekam dan menakutkan. Di masa itu, aku sudah berhasil bersamamu setelah beberapa tahun sebelumnya aku bermain catur besrsama ayahmu dan berkata "mereka boleh mengambil raja, pasukan, bahkan istanaku, tapi tidak untuk putriku".

Kota ini sebenarnya sudah lebih maju dibanding sebelumnya. Masyarakatnya sudah lebih terbuka pemikiranya. Perempuan sudah bebas pulang malam, berjalan dijalan kota menyusuri lorong rumahnya tanpa harus dihujat dan difitnah pelacur oleh pemuda setempat.

Tapi, tidak dengan pemerintahnya. Dengan kondisi yang seperti ini, pemerintah dengan akal-akalanya makin membuat tata kelola negara kian carut-marut dibuatnya. Masyarakat kelas bawah dan kelas menengah mulai jengah. Kita termasuk kelas kedua, sebab pekerjaanku sudah cukup layak untuk menghidupi kebutuhan primer-sekunder, dirimu dan anak-anak, tapi belum cukup untuk perintilan lainya.­

Sebenarnya aku takut hal-hal yang serupa 1998 terulang kembali. Yaa, kalau aku masih bujangan, tentu aku menginginkanya, sangat. Tapi aku sudah berkeluarga dan kau pula istrinya, justru aku semakin takut. Aku takut, disaat kita sedang asyik bermain diruang keluarga, muncul berita penjarahan, kerusuhan dimana-mana. Terpaksa putra- putri kita libur sekolah. Terpaksa kita harus mendekam dirumah, dan terpaksa aku harus berhenti bekerja untuk sementara. Takut untuk diriku ialah ketakutan nomor terakhir. Yang penting adalah keselamatan dirimu dan anak-anak kita. 

Tapi, pada akhirnya tak semua bisa sesuai seperti apa yang kita inginkan. Kadangkala dunia harus dibangun, dihancurkan, kemudian dibangun kembali demi peradaban baru yang lebih beradab.

Maka pada hari itu beranjaklah masing-masing orang dari tempat tidurnya, berkumpul di tempat-tempat yang disebar oleh akun-akun akar rumput dan bawah tanah. Berkonsolidasilah mereka, beberapa kali melingkar dan belajar. Seringkali ada intel yang menyelip dan berpura-pura menjadi demonstran. Ah, pada masa itu cara lama yang telah usang itu pun masih dipakai oleh aparatus negara. Ya sudahlah, mereka itu bukan jadi soal. Demonstran hari itu sudah jauh lebih cerdas dan lebih matang.

Akupun sebenarnya ingin pergi. Tetapi kau tak mengizinkanku. Kau berilah aku tugas untuk menjaga sikecil buah hati, sembari kau memasak makan siang kita. Alhamdulillah, bahan makanan sudah kita persiapkan jauh-jauh hari, juga soal masakanmu, selalu terasa mantap.

Aksi pelan-pelan sudah dimulai. Kecil, sedang, kemudian membesar dan meluas. Eskalasi massa semakin meningkat. Oh tentu, keamanan pun pasti juga ditingkatkan. Pejabat-pejabat banyak yang tak pulang dari gedung parlemen ataupun kantor-kantor mereka.

Sampai hari itu tiba, penggemar film action sering menyebutnya "the final chapter". Maaf aku ingkar pada janjiku. Saat kau ikut tidur siang setelah menimang-nimang si kecil, aku mengendap-endap pergi. Itupun sebenarnya karena aku diajak melalui WhatsApp oleh salah satu temen kerjaku yang cukup progresif. Dia mantan aktivis di kampus Trisakti dan juga salah satu inisiator gerakan ini terjadi.

Celakanya aksi itu berlangsung begitu ricuh. Gas air mata berkali-kali mendarat ke tengah-tengah kerumunan. Watercanon berdiri berjejer, menyemprot dengan derasnya untuk membubarkan masa. Senjata api memuntahkan peluru beruntun. Hari itu, moncong senjata memang sudah ada di depan mata dan mengecup pipi. Aku dengan lincah mengamankan diri bersama teman, meski pipiku sudah memar dan legam bekas dipukul oleh loreng-loreng berseragam.

Kalaupun aku pulang kerumah, belum tentu aku sampai kerumah dengan selamat. Sebab intel-intel sudah dikerahkan menyusur dan menyisir hingga tiap-tiap lorong kecil. Tapi kalau aku masih disini, hatiku tak tenang sebab kau dan anak-anak masih dirumah. Pasti kau mencariku. Suasana yang begitu mencekam ditambah pikiran dan perasaan yang dilematis menghantuiku pada hari itu.

Pada persembunyian kami yang berhari-hari itu, akhirnya kekuatan negara melemah. Pemerintah mulai goyah di singgasananya setelah mereka di tegur oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa, akibat korban yang berjatuhan di tengah jalan. Negara-negara lain ikut menegur dan menghukum bangsa ini.

Aku tak tau gerakan ini masih murni atau sudah dikangkangi oleh kepentingan antek-antek asing. Yang jelas, penderitaan ini harus segera berakhir! Otoritarianisme ini harus berakhir, dan aku harus secepatnya pulang kembali kerumah.

Hari penting kedua kalinya dalam rentetan sejarah kelam bangsa ini kembali di torehkan. Presiden mundur dari kursi kekuasaanya, dijatuhkan oleh kuatnya kedaulatan rakyat dan supremasi sipil. Aku yakin runtuhnya penguasa dan kemenangan rakyat sipil ini juga bagian dari doamu, jerih payah ini juga adalah berkat tangis deru anak-anak kita yang menginginkan aku pulang dengan segera.

Pada tiap-tiap sorakan kebahagiaan dan kemenangan yang terpancar di setiap arah kota, terlintas suara lembutmu yang memanggil namaku. Penglihatanku yang memburam sebab aku kurang tidur dan dehidrasi, mencari-cari siapa yang bergumam memanggil namaku. Sampai akhirnya kutemukan dirimu berdiri memanggil namaku lagi.

Jarak kita tak terlalu jauh. Kuhampiri dirimu sebisaku, hingga sampai tinggal dua atau tiga langkah lagi. Aku tumbang karena kelelahan. Sigap kau tangkap badanku, memelukku dengan isak tangismu yang menjadi-jadi. Tapi yang membuat cintaku semakin mekar padamu. Kau tidak menanyakan kepergianku dibarisan masa aksi secara diam-diam. Kau hanya mengusap sisa darahku yang sudah mengering sambil berkata "syukurlah kita menang dan kamu selamat".

Petugas mulai menjalankan tugasnya masing-masing puluhan ambulans berlalu-lalang membawa korban. Beruntung aku tidak pulang sendiri. Kau menjemputku dengan jarak rumah kita yang terbilang cukup jauh. Mengantarku pulang sambil bercerita masakan kesukaanku yang sudah kau siapakan di rumah dan sedang menunggu di balik tudung saji.

Semarang, 08 Juni 2026 

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama