Dialog di Kolong Jembatan

 Oleh Wita Usika (PMII Rayon Bahasan dan Seni) pada Minggu, 14 Juni 2026 pukul 18.57

Sumber: dibuat dengan AI 

Dialog di Kolong Jembatan, judul yang terinspirasi dari kisah pemulung yang terpinggirkan karena ekonomi semakin kejam, politik makin rusak, dan pejabat yang tambah rakus. Mahasiswa adalah salah satu bentuk anugerah yang diturunkan Tuhan dengan hati dan pikiran senasib terhadap kaum yang tertindas. Bagus adalah salah satu mahasiswa yang aktif turun ke jalan dan menghadiri konsolidasi politik, tetapi harus menahan rasa pahit dan rasa cemas hari yang ramai aksi di jalan dan hari yang tegang di ruang sidang. Hanya di bawah kolong jembatan, cerita sesungguhnya dapat diterima oleh kaum yang tidak terdeteksi sistem. Inilah, satu hari yang panas. 

***

“Suara-suara menuntut keadilan bersatu kuat karena keberanian berpikir dan bergerak,” kata seorang pria berumur 23 tahun dalam batin, kedua kakinya terus melangkah maju, di punggungnya ada tas ransel hitam dan isinya nyaris seperti masa depan para mahasiswa formal lainnya, yaitu laptop yang membantu proses sidangnya hari ini. 

Di sepanjang perjalanan, ia mulai merasa jantung berdegup kencang, kulitnya mulai menunjukkan suhu panas dingin dan rambutnya mulai basah karena terik matahari pagi yang menyengat, hari yang begitu padat sepanjang jalan karena ada aksi massa. 

Yang menjadikan berat adalah jadwal konsolidasi diluar prediksi jatuh di hari yang berdekatan dengan jadwal sidang, dan aksi demo yang jatuh bertepatan di hari ia memperjuangkan lebih serius pendidikannya. 

Tepat pukul 12 siang, Bagus keluar dari ruang sidang sendirian, karena teman-temannya turun di jalan hari ini, sebagaimana hari ini malah ia dijadwalkan menyelenggarakan sidang skripsi. Bagus tidak buru-buru menyusul, karena sebelum hari ini pria itu sudah berjanji sejak lama, bahwa selesai sidang ia akan pergi ke kolong jembatan. 

Bagus adalah salah satu pria yang selalu menepati omongannya. Pria berdarah Melayu itu kembali berjalan menyusuri pinggir jalan, mendatangi kolong jembatan yang sempat ia kunjungi seminggu lalu, setelah skripsinya diterima oleh dosen pembimbing.

“Assalamualaikum, Pak?” 

“Waalaikumsalam, oh abang Melayu datang. Bagaimana abang, lancar sidangnya?” tanya pria berumur 60 tahun dengan senyum di bibir hitamnya. 

“Lancar pak, tapi tetep ada revisi nantinya,” kata Bagus. 

“Tak masalah abang, yang penting sudah sidang, tapi ya tetep direvisi ya? Habis ini pasti ujian toefl, bang?” Selalu sama, Bapak dari dua anak itu bersifat cair dan periang. 

Bagus tersenyum tipis, “ah bapak nih, suka banget bikin saya mikir,” kata Bagus sedikit kesal karena ia baru saja keluar dari ruang sidang, sendirian, jalan di tengah padatnya massa aksi dan Pak Farda mengingatkan ujian toefl di bawah kolong jembatan. 

“Lah gimana to Bang, manusia kodratnya kan punya akal buat mikir, to?” Pak Farda mulai menampakkan identitas Jawa dari logatnya.

“Ya bener sih, tapi saya lagi capek,” kata Bagus. 

“Secapek-capeknya abang, lebih capek saya jadi pemulung, bang,” kata Pak Farda. 

Bagus hening seketika. Suara aksi demo menguasai pusat kota, di atas sana mereka sedang memperjuangkan rakyat seperti Pak Farda, yang masih jauh dari merdeka. 

“Pak, sesuai janji saya ya, saya mau bikin kopi sama Bapak.” Selain memulung, Pak Farda memiliki usaha gendong sachetan kopi di setiap malam hari. Kalau siang memungut plastik, kalau malam pria tersebut berkeliling sejauh Terminal Peron untuk membuatkan kopi panas dan membawa uang receh untuk Alin dan Atin, si kembar yang berumur 12 tahun. 

“Saya hari ini cuti kerja, Bang.” 

“Lah? Libur Pak?” Bagus kebingungan. 

“Ya mbok kira pemulung gak bisa cuti?” Pak Farda semakin membuat Bagus merasakan lelahnya. 

“Sini sini, duduklah.” Pak Farda memahami situasi pemuda di depannya. Bagus duduk kemudian menoleh kebelakang, mendapati kedua anak Pak Farda sedang makan nasi bungkus. 

“Saya mau ikut aksi, Bang. Tapi anak-anak melarang, takut kalau ada apa-apa sama saya.” Pak Farda mulai bercerita. 

“Bapak beruntung, masih punya keluarga seperti mereka. Saya sendirian Pak.” Alasan Bagus menepati janjinya dibandingkan mengikuti aksi adalah hanya Pak Farda yang bisa menerima segala yang berbau kotor dan kemerdekaan seorang yatim piatu yang nekat kuliah di Ibu Kota. Pak Farda, orang yang tidak terdeteksi sistem, pemulung yang hidupnya di bawah kaki orang elit, misalnya pejalan di atas jembatan.

“Abang juga beruntung, masih muda.” 

“Ya saya beruntung Pak, tapi Bapak gak tahu rasanya tadi pas keluar ruang sidang. Sepi, gak ada satu pun yang nyambut. Bapak juga gak tahu rasanya saya berjuang mati-matian nyelesain skripsi di kos, di tempat kerja, dan selalu dimarahin sama dospem kalau gak ikut bimbingan. Saya sendiri pak, yang terakhir. Mungkin juga dospem saya perempuan, jadi iba makanya saya bisa sidang. Lah kok malah sidangnya bareng sama demo, makin tercabik-cabik jiwa saya menyaksikan itu.” 

Pak Farda diam menyimak, mengangguk paham. “Terus beban janji juga ya Bang? Kalau abang gak janji ke sini, abang kan bisa ikut demo.” 

“Jujur ya Pak, saya lagi capek banget. Rasanya pengen dipeluk lama gitu, Pak. Saya rasa sudah lama memendam semuanya sendiri.” Dialog di bawah kolong jembatan itu nyata, suara yang keluar dari seorang anak yang sudah lama ditinggal mati orang tuanya. 

“Oke bang, saya gantian yang bikin janji. Saya mau bisnis sama abang,” kata Pak Farda membuat Bagus sontak menatap pria itu.

“Bisnis apa?” 

“Jualan baju, Bang. Saya bisa jahit, abang kan sarjana DKV, Bang Bagus desain, saya jahit.” 

“Saya gak pernah kepikiran bikin konveksi sama pemulung, biasanya nipu.” 

“Astaghfirullah, bang Bagus. Apa pernah sampean mencret sehabis minum kopi saya?” 

Bagus menghela nafas, “Saya pernah ditipu, pak. 8 juta habis karena percaya sama orang. Padahal itu uang umat, bukan uang saya.” 

“Gini deh, biar formal, kita bikin perjanjian di atas kertas. Masing-masing punya jaminan,” kata Pak Farda. 

“Apa jaminan Bapak?” 

“Abang bisa nikah sama salah satu anak saya, boleh Alin atau Atin.” 

Pemulung itu mulai kehilangan akal, tetapi ke mana lagi Bagus dapat mengeluh. 

“Ya udah Pak, kalau gak ada kopi, saya pulang aja.” 

“Oh gitu, ya udah. Kalau berubah pikiran, saya siap berbisnis sama abang ya. Ke sini lagi,” kata Pak Farda. Bagus mengangguk kemudian berjalan menjauh. Wajahnya kembali diterpa panas dan suara bergema menyanyikan lagu buruh dari jalan seraya menyambut langkahnya. Tiba-tiba ia lapar, dan seseorang memanggilnya. 

“Mas mas, sini ada ayam geprek gratis.” 

Bagus mendekat, banyak nasi kotak berlogo geprek wangi di atasnya. “Dalam rangka apa, Mas?” tanya Bagus. 

“Dalam rangka protes sama pemerintah Mas,” kata laki-laki kisaran umur 19 tahun itu. 

“Lah kok geprek?” 

“Ya ini nasi geprek khusus buat perut mahasiswa, Mas. Kayak Mas ini,” katanya lagi sambil, seragam kerjanya tembus keringat. 

“Ini dari mana? Geprek wangi sebelah mana, selama di sini saya gak pernah nemu geprek wangi nih,” kata Bagus lagi. 

“Ya karena baru hari ini geprek wangi grand opening, Mas. Kebetulan juga ada demo, bos saya memanfaatkan situasi, Mas. Bagi-bagi geprek wangi super pedas, bentuk protes sama pemerintah.” Penjelasan orang itu otomatis membingungkan. 

“Emang siapa sih bos kamu?” 

“Bu Kartika Putri, Mas. Beliau dosen sih, makanya bagi-bagi buat mahasiswa. Mungkin Mas salah satu mahasiswanya.” Bagus melotot kaget. 

“Lah itu dospem saya! Tapi beneran ini ide Bu Tika?” tanya Bagus lagi. Bagus mengenal Bu Tika yang tegas dan disiplin, tetapi tidak pernah memperlihatkan tanda-tanda mendukung mahasiswanya di kelas yang kritis terhadap pemerintah. Tetapi, laki-laki itu mengangguk, “bukan di sini aja Mas. Ada 10 titik geprek gratis, kebetulan saya dekat jembatan sini.” 

Mendengar kata jembatan, Bagus teringat dengan Pak Farda. Alin dan Atin tadi makan siang, belum tentu Pak Farda juga makan siang. 

“Namamu, Key?”, tanya Bagus membaca tag name di seragam laki-laki itu. 

“Mau istirahat, gak Mas? Yuk ngadem,” ajak Bagus. 

“Eh tapi masih ada ini belum habis.” 

“Di kolong jembatan, Mas. Banyak juga rakyat yang demo perutnya.” 

Key menurut, mereka berdua berjalan ke arah bawah, ke arah kehidupan yang jauh dan tersingkirkan.

Pak Farda tidak sendiri, teman-teman pemulung, buruh, dan tani berdatangan dengan wajah gembira mendapatkan box nasi ayam geprek. Mereka semua langsung makan bersama di dekat rumah loyo Pak Farda dan sesekali bercanda ria. Bagus dan Key paling muda di sana, dan mereka mendengarkan dialog di kolong jembatan, dialog bebas dan terbuka, sayangnya seperti air sungai yang tenang tetapi hanya tenang, tak ada perubahan kecuali suara air yang mengalir ke bawah, semakin ke bawah.


Semarang, 14 Juni 2026

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama