Jalan Dakwah Walisongo

ilustrasi Islam di Indonesia

Hal ini mungkin bisa menjadi sedikit jawaban mengapa di zaman dulu Walisongo menggunakan lagu ataupun wayang kulit untuk berdakwah. Dahulu, Walisongo telah memahami betul prinsip "gelas yang dapat diisi adalah gelas yang tidak tertutup, apabila tertutup maka sebanyak apapun air yang dialirkan ke dalam gelas tak akan pernah terisi", seperti itulah kira-kira. Rasulullah pun sama, dalam berdakwah Rasulullah lebih memilih dakwah yang terbuka. Banyak kisah tentang bagaimana sikap kemanusiaan Rasulullah dalam berdakwah.

Salah satunya adalah kisah Rasulullah dengan seorang perempuan Yahudi buta di sudut pasar Madinah. Bahwasannya ada seorang pengemis Yahudi buta yang setiap harinya selalu berkata kepada setiap orang yang mendekatinya, “Wahai saudaraku, jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya maka kalian akan dipengaruhinya”. Namun, setiap pagi Rasulullah Saw. mendatanginya dengan membawakan makanan, dan tanpa berucap sepatah kata pun Rasulullah Saw menyuapkan makanan yang dibawanya kepada pengemis itu sedangkan pengemis itu tidak mengetahui bahwa yang menyuapinya itu adalah Rasulullah. Rasulullah melakukan hal ini setiap hari sampai beliau wafat.

Setelah wafatnya Rasulullah Saw tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu. Keesokan harinya Abu Bakar RA pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikan kepada pengemis itu. Abu Bakar RA mendatangi pengemis itu lalu memberikan makanan itu kepadanya. Ketika Abubakar RA mulai menyuapinya, si pengemis marah sambil mengherdik, “Siapakah kamu?”.

Abubakar RA menjawab, “Aku orang yang biasa.”

“Bukan! Engkau bukan orang yang biasa mendatangiku”, bantah si pengemis buta itu.

“Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut setelah itu ia berikan padaku”, pengemis itu melanjutkan perkataannya.

Abubakar RA tidak dapat menahan air matanya, lalu ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, “Aku memang bukan orang yang biasa datang padamu. Aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW”.

Seketika itu juga pengemis itu pun menangis mendengar penjelasan Abubakar RA, dan kemudian berkata, “Benarkah demikian? Selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya. Ia tidak pernah memarahiku sedikitpun. Ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia…. ” Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat di hadapan Abubakar RA saat itu juga dan sejak hari itu dia menjadi muslim.

Dalam kisah yang lain, ketika bertemu dengan orang orang lain ataupun sahabat yang ditanyakan Rasulullah pertama kali bukanlah ,"apa agamamu?" atau "sudah sholat belum?, tetapi malah "sudah makan atau belum?"

Dan akhlak seperti inilah yang diwarisi oleh kyai-kyai Nusantara dari Rasulullah dan para Walisongo, ketika sowan ke ndalem Kyai pasti yang pertama kali dilakukan adalah kita diutus makan terlebih dahulu sampai kenyang, baru setelah itu ngobrol ngalor-ngidul dan menyampaikan apa yang menjadi keperluan. Karena seperti itulah kyai-kyai dulu mengajarkan sebagaimana Walisongo.

Dalam berdakwah, Walisongo lebih memilih menggunakan dakwah yang terbuka, tidak memaksa siapapun, tetapi dengan merangkul semuanya. Budaya-budaya yang sudah ada tidak otomatis dihilangkan tetapi diluruskan, dimasuki nilai-nilai keislaman. Seperti yang kita tahu sekarang dari situ kemudian tercipta lagu-lagu seperti ; lir-ilir, sluku-sluku bathok, hingga gundul-gundul pacul. Lagu-lagu terebut sarat akan makna filosofis. Karena zaman dulu Walisongo tahu itulah kegemaran warga Jawa, dan dengan itulah warga Jawa bisa terbuka dengan ajaran baru dan mau menerimanya.

Berawal dari situlah masyarakat Nusantara (khususnya Jawa) kemudian mulai tertarik dengan Islam hingga mau untuk memeluk agama Islam.

Namun jika yang dilakukan adalah dengan jalan memaksa maka tidak akan pernah bisa, karena menurut cerita Babad Tanah Jawa, dulu telah terjadi kesepakatan antara Syech Subakir dengan Sabdopalon di gunung Tidar Magelang yang merupakan pakunya bumi Nusantara. Isi kesepakatan itu antara lain, Islam boleh berkembang atau disebarkan di Tanah Jawa tetapi tidak boleh dilakukan dengan pemaksaan. Islam harus menghormati dan menghargai budaya, adat istiadat setempat. Islam tidak boleh memaksa orang yang berbeda keyakinan untuk memeluk agama baru tersebut. Dan kalau orang Islam yang memimpin atau jadi pemimpin harus mengayomi semua orang, semua agama, dan semua kepercayaan. Menjunjung tinggi kearifan lokal.

Wallahu a'lam...
  
Bahrun M. Syafi'i
Kader Rayon Nusantara PMII Komisariat Al Ghozali Semarang.
Penikmat tempe dan suka mikir yang rada-rada gimana gitu.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama