Hal ini mungkin bisa menjadi sedikit jawaban mengapa
di zaman dulu Walisongo menggunakan lagu ataupun wayang kulit untuk berdakwah. Dahulu,
Walisongo telah memahami betul prinsip "gelas yang dapat diisi adalah
gelas yang tidak tertutup, apabila tertutup maka sebanyak apapun air yang
dialirkan ke dalam gelas tak akan pernah terisi", seperti itulah
kira-kira. Rasulullah pun sama, dalam berdakwah Rasulullah lebih memilih dakwah
yang terbuka. Banyak kisah tentang bagaimana sikap kemanusiaan Rasulullah dalam
berdakwah.
Salah satunya adalah kisah Rasulullah dengan seorang
perempuan Yahudi buta di sudut pasar Madinah. Bahwasannya ada seorang pengemis
Yahudi buta yang setiap harinya selalu berkata kepada setiap orang yang
mendekatinya, “Wahai saudaraku, jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia
itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya maka kalian
akan dipengaruhinya”. Namun, setiap pagi Rasulullah Saw. mendatanginya dengan
membawakan makanan, dan tanpa berucap sepatah kata pun Rasulullah Saw
menyuapkan makanan yang dibawanya kepada pengemis itu sedangkan pengemis itu
tidak mengetahui bahwa yang menyuapinya itu adalah Rasulullah. Rasulullah
melakukan hal ini setiap hari sampai beliau wafat.
Setelah wafatnya Rasulullah Saw tidak ada lagi orang
yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu. Keesokan
harinya Abu Bakar RA pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikan
kepada pengemis itu. Abu Bakar RA mendatangi pengemis itu lalu memberikan
makanan itu kepadanya. Ketika Abubakar RA mulai menyuapinya, si pengemis marah
sambil mengherdik, “Siapakah kamu?”.
Abubakar RA menjawab, “Aku orang yang biasa.”
“Bukan! Engkau bukan orang yang biasa mendatangiku”,
bantah si pengemis buta itu.
“Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini
memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu
selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut setelah
itu ia berikan padaku”, pengemis itu melanjutkan perkataannya.
Abubakar RA tidak dapat menahan air matanya, lalu ia
menangis sambil berkata kepada pengemis itu, “Aku memang bukan orang yang biasa
datang padamu. Aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu
telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW”.
Seketika itu juga pengemis itu pun menangis mendengar
penjelasan Abubakar RA, dan kemudian berkata, “Benarkah demikian? Selama ini
aku selalu menghinanya, memfitnahnya. Ia tidak pernah memarahiku sedikitpun. Ia
mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia…. ” Pengemis
Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat di hadapan Abubakar RA saat itu juga
dan sejak hari itu dia menjadi muslim.
Dalam kisah yang lain, ketika bertemu dengan orang
orang lain ataupun sahabat yang ditanyakan Rasulullah pertama kali bukanlah
,"apa agamamu?" atau "sudah sholat belum?, tetapi malah
"sudah makan atau belum?"
Dan akhlak seperti inilah yang diwarisi oleh kyai-kyai
Nusantara dari Rasulullah dan para Walisongo, ketika sowan ke ndalem Kyai pasti
yang pertama kali dilakukan adalah kita diutus makan terlebih dahulu sampai
kenyang, baru setelah itu ngobrol ngalor-ngidul dan menyampaikan apa yang
menjadi keperluan. Karena seperti itulah kyai-kyai dulu mengajarkan sebagaimana
Walisongo.
Dalam berdakwah, Walisongo lebih memilih menggunakan
dakwah yang terbuka, tidak memaksa siapapun, tetapi dengan merangkul semuanya.
Budaya-budaya yang sudah ada tidak otomatis dihilangkan tetapi diluruskan,
dimasuki nilai-nilai keislaman. Seperti yang kita tahu sekarang dari situ kemudian
tercipta lagu-lagu seperti ; lir-ilir, sluku-sluku bathok, hingga gundul-gundul
pacul. Lagu-lagu terebut sarat akan makna filosofis. Karena zaman dulu
Walisongo tahu itulah kegemaran warga Jawa, dan dengan itulah warga Jawa bisa
terbuka dengan ajaran baru dan mau menerimanya.
Berawal dari situlah masyarakat Nusantara (khususnya
Jawa) kemudian mulai tertarik dengan Islam hingga mau untuk memeluk agama
Islam.
Namun jika yang dilakukan adalah dengan jalan memaksa
maka tidak akan pernah bisa, karena menurut cerita Babad Tanah Jawa, dulu telah
terjadi kesepakatan antara Syech Subakir dengan Sabdopalon di gunung Tidar Magelang yang merupakan pakunya bumi Nusantara. Isi kesepakatan itu antara
lain, Islam boleh berkembang atau disebarkan di Tanah Jawa tetapi tidak boleh dilakukan
dengan pemaksaan. Islam harus menghormati dan menghargai budaya, adat istiadat
setempat. Islam tidak boleh memaksa orang yang berbeda keyakinan untuk memeluk
agama baru tersebut. Dan kalau orang Islam yang memimpin atau jadi pemimpin
harus mengayomi semua orang, semua agama, dan semua kepercayaan. Menjunjung
tinggi kearifan lokal.
Wallahu a'lam...
Bahrun M. Syafi'i
Kader Rayon Nusantara PMII Komisariat Al Ghozali
Semarang.
Penikmat tempe dan suka mikir yang rada-rada gimana
gitu.
