"Ndobos" Adalah Kita



salam bla bla bla Toni Boster” merupakan kalimat yang senantiasa hadir di setiap tulisan Facebook seorang guru ‘x’ yang saya kenal lama di daerah Rembang. Sekalipun sudah mendakukan diri sebagai murid, saya tidak memiliki keberanian menanyakan tentang hal tersebut.
Akhir-akhir ini tidak sengaja saya menemukan sebuah buku yang terlihat mencurigakan, ketika saya singgah di rumah salah seorang kawan saya yangmana ia juga merupakan murid beliau, guru ‘x’. Buku tersebut berjudul “Secangkir Kopi untuk Indonesia”. Buku tersebut merupakan sebuah buku yang berisi kumpulan status-status Facebook guru ‘x’. Halaman per-halaman saya baca sehingga kalimat yang selama ini hadir di kepala saya tentang “Toni Boster” merupakan sebuah singkatan dari “Waton Ndobos Banter”.
Ndobos, dalam bahasa Jawa memiliki arti bohong atau berbicara tanpa ada kebenarannya. Namun, dalam perkembangannya, ndobos memiliki makna yang lebih luas, bahwa arti ndobos adalah 'asal berbicara', adapula juga yang mengartikannya 'bisa berbicara tapi tidak mau melakukan', atau dalam peribahasa Jerman-nya (baca ; bahasa Jerman) : "Lontong dikethok-kethok, omong thok!!
Menurut salah seorang penulis ternama di Jogja, terdapat empat tingkatan fase alamia kecendekiawanan. Pertama, gagap. Gagap di sini berarti mendengar orang bicara sesuatu yangmana kita tidak paham, rasanya gemas terhadap diri sendiri. Misal, Marxis dan hilis itu idolable banget, akan tetapi karena gagap, kita serentak terseret arus untuk meng-wow-kan bahwa orang Marxis dan Nihilis itu kuereeenee poll (baca : bagus atau indah sekali) dan didambakan menjadi seorang panutan. Lantas, kita bersegera mencari bacaan tentang Marxisme dan Nihilisme. Dan merasa sangat  keren meski hanya mengetahui "Agama itu Candu" dan "Tuhan Telah Mati" dari Marxisme dan Nihilisme.
Kedua, koar-koar, yang memiliki arti berkata dengan suara keras dan berkali-kali. Berbekal pengetahuan sekecil biji perihal Marxisme dan Nihilisme, kita pun mengomentaritentang Marxisme, kerennya orang Marxis, dan bergaya mengekehi orang level pertama yang gagap tadi dan di detik yang sama kita luput untuk malu bahwa ada kelompok level berikutnya yang mentertawakan dalam hati kekonyolan kita berkoar-koar.
Ketiga, reflektif, yang memiliki arti gerakan sangat refleks. Pada tahap ini fase kecendekiawan selalu mengandaikan bahwa pengetahuan mestinya menghantar pada kebajikan dan jauh dari ketergopohan. Memilih kesunyian untuk merenung, memilih melihat dan mengamati, memilih tak mengacaukan ketenangan air meski ia tahu ada kekeruhan di dalamnya, dan memilih ilmunya untuk kebajikannya.
Keempat, berserah diri, yang memiliki arti mempercayakan diri dan nasib. Fase kecendekiawan ini pada hakikatnya menyerukan manusia pada betapa agungnya kuasa Ilahi. Hanya Dia yang Maha Segalanya, dan hanya pada-Nya hidup ini kembali.

Baiklah, di fase berapa pun kita kini berada, hanya ada satu tugas utama : pastikan proses mengarah ke jenjang-jenjang demikian. Mau gemar memisuh atau menyerang orang lain, akan tetapi sembari kita harus senantiasa merasa sangat hebat dan keren, ingatlah kita akan tua, lelah, dan mati. Mekanisme alamiah seperti ini mutlak.
Dan jika sekarang masih banyak orang yang suka ndobos di media sosial, mbok yo wis ben, namanya juga proses. Bukankah padi yang merunduk juga berawal dari padi yang setiap harinya ndangak (baca : melihat ke atas) ? Mau bagaimanapun, ndobos telah mendarah daging dalam dari kita. Dan sekeras apapun kita menolak, pada kenyataannya, ndobos adalah kita.
(Bahrun M. Syafii, Kader Rayon Nusantara PMII Komisariat Al-Ghozali Semarang, Penikmat Tempe dan Suka Mikir)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama